Tahfizku
← Semua Artikel
28 Agustus 2026

Bebas Buta Aksara Al-Quran Sejak Dini, Pesan Wisuda Akbar 10.000 Santri di Palembang

Bebas Buta Aksara Al-Quran Sejak Dini, Pesan Wisuda Akbar 10.000 Santri di Palembang

Sebanyak 10.000 santri TK/TPA binaan BKPRMI Sumatera Selatan mengikuti Tasyakuran Bebas Buta Aksara Al-Quran dan Wisuda Akbar 2026 di Palembang Sport and Convention Center (PSCC), Selasa (25/8/2026). Acara yang digelar mulai pukul 09.00 WIB itu menandai ribuan anak usia dini telah berhasil mengenal huruf dan membaca Al-Quran.

Momentum ini bukan sekadar seremoni kelulusan. Ia menjadi bukti bahwa bebas buta aksara Al-Quran sejak usia dini bisa terwujud ketika orang tua, guru mengaji, dan pemerintah berjalan bersama.

Fakta Wisuda Akbar 10.000 Santri di PSCC Palembang

Kegiatan mengusung tema "Menyiapkan Generasi Qur'ani Menyongsong Masa Depan Gemilang". Dilansir Tribunsumsel, acara ini tidak hanya merayakan keberhasilan santri belajar membaca Al-Quran, tetapi juga menegaskan posisi pendidikan Al-Quran sebagai bagian dari pembangunan karakter generasi muda.

Polda Sumsel yang hadir turut memberi apresiasi. Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol. Nandang Mu'min Wijaya, sebagaimana dilansir sumeks.co, menyebut wisuda akbar itu wujud nyata pembinaan karakter: "Kami menyambut baik dan memberikan apresiasi atas terselenggaranya wisuda akbar ini sebagai wujud pembinaan karakter generasi muda yang berakhlak mulia."

Dalam acara yang turut dihadiri Ketua Umum DPW BKPRMI Sumsel Firdaus tersebut, Gubernur Sumsel Herman Deru menyerahkan penghargaan Kepala Daerah Pendukung Gerakan Bebas Buta Aksara Al-Qur'an kepada Bupati OKU Timur. Bupati Enos menuturkan, "Momentum ini menjadi pengingat bahwa membangun generasi bukan hanya tentang kecerdasan, tetapi juga tentang membentuk generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia."

Pesan Herman Deru: Pendidikan Al-Quran Berawal dari Orang Tua

Dalam kesempatan itu, Herman Deru menekankan pendidikan Al-Quran berawal dari rumah, dengan peran ibu sebagai "madrasah pertama" bagi anak. Pesan tersebut dilaporkan sejumlah media lokal, di antaranya viralsumsel.com dan Bidik Sumsel.

Dukungan untuk gerakan ini juga datang dari berbagai pihak. Polda Sumsel, misalnya, menyalurkan sekitar 5.000 buku Latihan Hijaiyah Jilid 1 dan 2 untuk memperkuat pembelajaran Al-Quran di Sumsel.

Kasus di Sumsel menunjukkan satu hal: keberhasilan ribuan anak mengenal Al-Quran bukan keajaiban sesaat, melainkan hasil kerja TK/TPA, guru mengaji, rumah tahfiz, dan orang tua yang konsisten mendampingi setiap hari.

Cara Mendampingi Anak Agar Dekat dengan Al-Quran Sejak Dini

Untuk orang tua dan pengasuh, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dipraktikkan:

Mulai dari yang kecil dan rutin. Kenalkan huruf hijaiyah lewat bermain atau lagu, 10-15 menit sehari lebih bermanfaat daripada sesi panjang tapi jarang. Kuncinya konsistensi waktu, misalnya setelah subuh atau sebelum tidur.

Jadilah contoh. Anak meniru apa yang dilihat. Orang tua yang rajin membaca Al-Quran akan lebih mudah menumbuhkan rasa cinta anak terhadapnya daripada sekadar menyuruh.

Libatkan komunitas. TK/TPA, halaqah, dan rumah tahfiz memberi suasana belajar bersama yang membuat anak betah mengaji. Kisah di Sumsel menegaskan kolaborasi orang tua dan komunitas adalah kunci.

Catat progresnya. Pencatatan setoran membuat perkembangan anak terlihat jelas, sekaligus memudahkan guru mengukur target berikutnya. Panduan lanjutan bisa dibaca di artikel cara mudah menghafal Al-Quran dengan konsisten.

Bagi pesantren, sekolah, atau halaqah yang ingin meniru langkah lembaga-lembaga di Sumsel, Tahfizku menyediakan platform pencatatan setoran dan monitoring progres hafalan Al-Quran. Dengan catatan yang rapi, perkembangan setiap santri terlihat jelas sehingga pendampingan bisa lebih tepat sasaran.

Kelola Hafalan Lembaga Anda dengan Tahfizku

Pencatatan setoran, monitoring progres santri, dan laporan perkembangan — semua dalam satu platform.

Mulai Gratis Sekarang