Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar resmi memiliki dua fasilitas baru untuk pembinaan penghafal Al-Quran. Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman meresmikan Markaz Huffadz Al-Quran dan Rumah Tahfidz Al-Quran Putri pada Selasa (29/9/2026), dihadiri Syekh Mohammad MT Al Khoory dari Uni Emirat Arab beserta jajaran pimpinan Muhammadiyah dan Unismuh.
Keberadaan kedua fasilitas itu punya fungsi berbeda. Rektor Unismuh Makassar Dr. Ir. H. Abd Rakhim Nanda menjelaskan, Markaz Huffadz di kampus utama diperuntukkan bagi mahasiswa yang telah menghafal 30 juz sebelum menempuh pendidikan tinggi. Sementara Rumah Tahfidz di Kabupaten Gowa menjadi tempat bagi mahasiswa yang masih dalam proses menghafal Al-Quran.
Beasiswa Tahfidz Empat Tahun, 74 Mahasiswa Aktif
Kedua fasilitas tersebut mendukung program beasiswa penghafal Al-Quran Unismuh yang telah berjalan empat tahun. Saat ini programnya diikuti sekitar 74 mahasiswa yang ditempatkan dalam asrama khusus untuk mengikuti pembinaan dan penyetoran hafalan secara terstruktur.
Pola seperti ini sejalan dengan praktik yang lazim dijalankan kampus lain lewat jalur tahfidz, di mana setoran hafalan rutin menjadi syarat utama pembinahan. Model penyetoran terstruktur juga menjadi kunci keberhasilan program tahfidz di sekolah dan madrasah.
Kolaborasi 35 Tahun dengan Keluarga Al Khoory
Pembangunan Markaz Huffadz dan Rumah Tahfidz merupakan hasil kolaborasi Unismuh dengan dermawan asal Uni Emirat Arab, Dr. (HC) Syekh Mohammad MT Al Khoory, pendiri Asia Muslim Charity Foundation (AMCF). Dukungan keluarga Al Khoory bagi pendidikan keislaman di Unismuh telah berlangsung sejak pengoperasian Ma'had Al-Birr pada 1997.
"Saya sangat senang berada di Makassar. Tempat ini merupakan rumah kedua saya. Saya sudah berada di Makassar selama 35 tahun," ujar Syekh Al Khoory usai peresmian, seperti dikutip RRI.co.id.
Gubernur Andi Sudirman menyebut kehadiran Markaz Huffadz bukan hanya penting bagi kampus, tetapi juga kebanggaan Sulawesi Selatan. "Ini merupakan kebanggaan kita, kebanggaan Sulawesi Selatan dan juga anak-anak kita, generasi pengawal Al-Quran kita," katanya.
Harapan Lanjut Studi ke Timur Tengah
Gubernur Sulsel juga mendorong pengembangan kerja sama tersebut ke bidang peningkatan kualitas sumber daya manusia. Salah satunya lewat peluang pendidikan bagi mahasiswa Ma'had Al-Birr dan penghafal Al-Quran untuk melanjutkan studi ke luar negeri.
"Kalau mungkin harapan kita, yang di Al-Birr bisa dikirim ke Dubai juga, pertukaran atau lanjutkan kuliah S2-nya di sana," ujar Andi Sudirman.
Langkah kampus membangun ekosistem khusus penghafal Al-Quran seperti ini menegaskan bahwa pengelolaan hafalan tidak berhenti pada saat menghafal, tetapi juga membutuhkan pembinahan dan pencatatan progres yang berkelanjutan. Baca juga pengalaman 34 mahasiswa baru Unismuh Makassar yang hafal Al-Quran 30 juz melalui jalur tahfidz.
Bagi pesantren, sekolah, atau halaqah yang ingin mengelola program tahfidz secara rapi, pencatatan setoran dan monitoring progres hafalan bisa dibantu platform seperti Tahfizku (tahfizku.online), sehingga perkembangan setiap santri terpantau secara konsisten.
