Program tahfizh kini menjadi daya tarik utama banyak sekolah Islam terpadu, madrasah, hingga TK dan SD berbasis Islam. Namun di balik label "sekolah penghafal Al-Quran", realitasnya sering tidak seindah brosurnya. Penelitian yang diterbitkan di Fitrah: Journal of Islamic Education (2023) oleh peneliti Universitas Jambi menemukan bahwa program tahfizh yang dijadikan program unggulan kerap tidak selaras dengan ketercapaian hafalan siswa, dan salah satu faktornya adalah pengelolaan program yang kurang baik.
Kasusnya nyata. Di SMP-IT Ash-Shiddiiqi yang menargetkan lima juz dalam tiga tahun, data tiga tahun terakhir menunjukkan hampir separuh siswa tidak mencapai target: tahun 2021 ada 104 siswa tercapai dan 72 tidak tercapai, tahun 2022 hanya 77 tercapai sementara 84 tidak, dan pada 2023 sebanyak 96 tercapai versus 84 tidak tercapai.
Mengapa Target Hafalan Sering Gagal?
Riset yang sama mengungkap akar masalahnya ada di manajemen, bukan semata kemampuan anak. Program yang berhasil dicirikan oleh perencanaan yang rinci: target hafalan ditetapkan jelas, muhafidz dan muhafidzoh diseleksi serta dilatih, siswa diseleksi sesuai kemampuan baca Al-Quran, alokasi waktu hafalan ditentukan, dan ada program penunjang hafalan. Sebaliknya, sekolah yang asal menargetkan sering mengabaikan alokasi waktu dan kualitas pengajar.
Temuan serupa muncul dari penelitian di jurnal JEA UIN Antasari (2024) pada program tahfidz anak usia dini di TK Darul Qur'an Karangtengah, Banyumas, Jawa Tengah. Studi itu menyoroti lembaga yang menargetkan satu juz per tahun tetapi pada praktiknya target tersebut belum bisa tercapai, sehingga jangka waktu program akhirnya disesuaikan dengan realitas kemampuan anak. Perencanaan yang baik, tulis peneliti Ade Cahya Ningsih dan Novan Ardy Wiyani, mencakup enam tahapan: perumusan target yang jelas, penetapan ruang lingkup, jangka waktu, strategi pelaksanaan, sarana-prasarana, hingga rencana evaluasi program.
Empat Langkah Praktis Membenahi Program Tahfizh
Dari kedua riset tersebut, ada beberapa langkah yang bisa langsung diterapkan sekolah, pesantren, maupun halaqah:
1. Tetapkan target bertingkat, bukan seragam. SMP-IT Ash-Shiddiiqi memakai metode itqan, menghafal ayat per ayat mulai dari juz 30. Target 5 juz dalam 3 tahun dipecah menjadi capaian kecil per periode, sehingga siswa lambat tetap punya jalur yang jelas.
2. Pastikan alokasi waktu dan setoran harian terukur. Di sekolah boardings, sebagian besar hafalan berlangsung di asrama dengan jadwal setoran yang ditentukan. Yang membedakan yang berhasil dan tidak adalah apakah setoran itu benar-benar dicatat dan dipantau, bukan sekadar dijadwalkan.
3. Evaluasi rutin dan pelaporan muhafidz. Penelitian di Ash-Shiddiiqi mencatat evaluasi dilakukan dua kali sebulan, sementara muhafidz wajib melapor setiap hari melalui tautan yang disediakan sekolah. Dengan ritme ini, siswa yang tertinggal terdeteksi dalam hitungan hari, bukan saat rapor.
4. Latih pengajarnya, jangan hanya target murid. Seleksi dan pelatihan muhafidz termasuk bagian perencanaan yang menentukan. Guru tahfizh yang tidak terlatih membaca dan menyimak setoran cenderung membiarkan kesalahan mengendap hingga hafalan rapuh.
Manajemen Hafalan Kini Bisa Digital
Praktik pelaporan harian muhafidz yang ditemukan riset di Ash-Shiddiiqi membuktikan satu hal: pencatatan setoran dan pemantauan progres adalah jantung program tahfizh. Sayangnya, banyak lembaga masih mengelolanya dengan buku catatan manual yang sulit dirangkum dan mudah hilang.
Di sinilah platform seperti Tahfizku berperan: pencatatan setoran hafalan online, pemantauan progres per santri secara real-time, dan laporan siap pakai bagi orang tua maupun pimpinan lembaga. Panduan pemanfaatannya tersedia di halaman panduan Tahfizku.
Target hafalan yang ambisius tidak salah. Yang membuat program tahfizh sekolah gagal adalah target tanpa manajemen: tanpa pemecahan capaian, tanpa pencatatan setoran, dan tanpa evaluasi rutin. Dengan tiga hal itu, angka "tidak tercapai" seperti yang terjadi di banyak lembaga bisa ditekan secara nyata.
