Menghafal Al-Quran tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas atau masjid. Akhir pekan ini, dua institusi pendidikan di dua kota berbeda justru membawa halaqah ke alam terbuka. SMP Muhammadiyah 1 Gresik (Spemutu) menggelar Tahfidz Camp #6 di kawasan Wisata Alam Gosari (Wagos), Ujungpangkah, Gresik, sementara Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Boarding School (MBS) Banjarbaru menggelarnya di Masjid Al Jihad Banjarmasin.
Metode yang kini mulai populer dengan sebutan tahfidz camp ini memadukan setoran hafalan, permainan edukatif berbasis ayat, dan pembinaan karakter dalam satu paket kegiatan. Selama dua hari, Jumat hingga Sabtu (18-19/9/2026), 100 siswa pilihan Spemutu dari kelas VII-IX berkemah di kaki gunung kapur Gosari sambil menjaga ziyadah dan muroja'ah hafalan mereka.
Suasananya berbeda dari rutinitas belajar biasa. Deretan tenda berdiri di area lapangan, dan dari sela-selanya terdengar lantunan ayat Al-Quran yang berpadu dengan desir angin serta kicau burung, seperti dilaporkan tagar.co.
Tenda Didirikan Sendiri, Target Juz Dipantau
Ciri khas tahfidz camp ada pada pelibatan peserta di semua proses. Di Wagos, tenda tidak dipasang oleh guru, melainkan didirikan sendiri oleh peserta secara bergotong royong. Guru hanya mendampingi dan mengarahkan agar kegiatan tetap aman.
Koordinator Perlengkapan Tahfidz Camp #6 Sunarko, S.Psi. mengatakan pemasangan tenda bagian dari pembelajaran kemandirian. "Ini bukan sekadar mendirikan tenda, tetapi juga melatih kemandirian, kerja sama, tanggung jawab, dan kemampuan menyelesaikan tugas bersama," ujarnya kepada RadarJatim.id.
Di tempat lain, MBS Banjarbaru menggelar versinya selama tiga hari, Jumat hingga Ahad (18-20/9/2026), dengan sekitar 140 santri dari kelas 7, 8, 10, dan 11. Wakil Direktur 1 Bidang Pendidikan dan Kepondokan MBS Banjarbaru Hendra, M.Pd., Gr. menjelaskan target peserta mampu menghafal minimal setengah hingga dua juz selama kegiatan berlangsung, dilansir Mu4.co.id.
Tahun lalu kegiatan MBS Banjarbaru memang berkonsep alam terbuka di Bukit Manjai, Mandiangin. Tahun ini lokasinya pindah ke masjid, tetapi ruhnya tetap sama: menghadirkan suasana baru agar santri semangat menambah hafalan, sekaligus belajar bersosialisasi di lingkungan yang berbeda.
Lima Pos Tadabbur Alam, Hafalan Sambil Bermain
Daya tarik tahfidz camp Spemutu terletak pada Tadabbur Alam berbasis permainan yang dibagi dalam lima pos di kawasan Wagos. Peserta bergantian melewati setiap pos dengan tantangan yang berbeda, sebagaimana diabadikan PWMU.CO.
Pos pertama bertajuk Gema Semangat Qurani berisi yel-yel kreasi kelompok. Pos kedua disebut Abatajaha, permainan huruf hijaiyah di mana peserta harus menyebutkan ayat Al-Quran yang diawali huruf tertentu. Pos ketiga dan keempat berupa Estafet Ayat serta Sambung Ayat, dua permainan yang menguji daya ingat sambungan ayat dengan konsekuensi lucu berupa coretan bedak bayi. Pos kelima berisi refleksi dan kesan-pesan di aula Wagos.
Kepala Spemutu Rosyidul Arifibillah, S.Pi., S.Pd., M.Pd. menegaskan kegiatan harus menyenangkan, mengislamkan, dan mengesankan. "Melalui Tadabbur Alam, mereka bisa belajar al-Qur'an sambil bermain, bekerja sama, dan menikmati suasana alam," ujarnya.
Kegiatan siang tidak berhenti di permainan. Peserta tetap menyetor hafalan dengan pendampingan ustaz dan ustazah, mulai dari memperbaiki makharijul huruf dan tajwid hingga memahami makna ringkas ayat yang dihafalkan. Ketika malam tiba, rangkaian ditutup qiyamullail berjamaah pada sepertiga malam, diikuti doa bersama dan tausiyah motivasi di udara perbukitan yang dingin.
Kunci Tahfidz Camp yang Membekas
Ketua Pelaksana Tahfidz Camp #6 Eka Winsyaputra, S.Pd. menyebut suasana luar ruang menghadirkan pengalaman belajar yang lebih segar. Halaqah di bawah gugusan gunung kapur bahkan menghadirkan pengalaman spiritual, karena siswa dapat membaca ayat kauniyah langsung dari alam yang terbentang di hadapan mereka.
Siswa kelas IX B Spemutu, Naylana Khansa Janeeta, merasakan dampaknya secara langsung. "Menghafal Al-Qur'an sambil melihat pemandangan gunung kapur dan hembusan angin segar bikin suasana hati lebih tenang," tuturnya. Menurutnya, suasana itu membuat ayat yang dihafal lebih mudah masuk dan melekat dalam ingatan.
Dari dua kegiatan di atas, ada pola yang bisa ditiru pesantren, sekolah, maupun halaqah lain. Target hafalan harus jelas dan terukur, suasana belajar dibuat variatif lewat permainan berbasis ayat, peserta dilibatkan dalam pekerjaan nyata agar tumbuh kemandirian, dan ibadah malam menjadi penguat kekhusyukan. Permainan ditegaskan bukan sekadar hiburan karena di dalamnya ada hafalan, bacaan, dan pembentukan karakter.
Pengalaman menyenangkan semacam ini juga efektif menjaga keberlanjutan, asalkan setoran hafalan tetap terjadwal dan terpantau setelah camp berakhir. Praktik setoran hafalan rutin yang konsisten menjadi fondasi agar semangat di alam terbuka tidak berhenti ketika tenda dibongkar.
Bagi lembaga yang hendak merancang program serupa, pencatatan progres tiap santri sebaiknya dikelola secara sistematis dari hari pertama. Di sinilah Tahfizku membantu pesantren, sekolah, dan halaqah mencatat setoran hafalan serta memantau perkembangan masing-masing penghafal secara teratur, sehingga momen belajar yang mengesankan benar-benar berubah menjadi target juz yang tercapai.
