Tahfizku
← Semua Artikel
15 September 2026

40 Qari Tunanetra Berlaga di MTQ Nasional 2026, Al-Quran Braille Jadi Andalan

40 Qari Tunanetra Berlaga di MTQ Nasional 2026, Al-Quran Braille Jadi Andalan

40 qari dan qoriah tunanetra bersaing dalam cabang tilawah disabilitas netra pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI 2026 di Semarang. Mereka melantunkan ayat suci dengan mengandalkan hafalan atau membaca Al-Quran Braille di hadapan dewan hakim.

Lomba digelar di gedung Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Kementerian Ketenagakerjaan di kawasan Pedurungan, Semarang, sejak Minggu (13/9). Babak penyisihan tilawah disabilitas netra berlangsung hingga Kamis (17/9), sedangkan babak final dijadwalkan Jumat (18/9). Cabang hafalan Al-Quran umum di ajang yang sama bahkan menjadi cabang dengan peserta terbanyak, diikuti 331 peserta sebagaimana dilaporkan sebelumnya.

Ayat Diacak Sebelum Tampil, Mushaf Braille Disediakan

Person in Charge (PIC) Majelis 3 Tartil dan Tilawah Disabilitas Netra MTQ Nasional Mohammad Asyiq menjelaskan, ayat yang dilombakan diacak satu jam sebelum peserta tampil. "Kalau untuk peserta tilawah tunanetra, ayatnya diacak satu jam sebelum tampil. Ini kan bukan cabang tahfiz, jadi mereka boleh membaca," kata Asyiq di gedung BBPVP Semarang, sebagaimana dilansir detikcom, Minggu (13/9).

Menurut dia, mayoritas peserta tunanetra justru telah menghafal Al-Quran. Bagi yang belum menghafal, panitia memfasilitasi mushaf Braille. Secara keseluruhan, ada sekitar 70 peserta pada golongan tartil dan tilawah, termasuk 40 peserta disabilitas netra yang datang dari 37 provinsi.

Menghafal Al-Quran dengan Telinga

Di balik panggung itu tersimpan kisah kerja keras. Salah satunya milik Ahmad Zainudin (25), warga Tlogomulyo, Pedurungan, Kota Semarang. Ia penyandang tunanetra sejak lahir, dan kemampuan penglihatannya kini diperkirakan hanya tersisa 5-6 persen, sebagaimana dilansir Kompas.com.

Ahmad mulai serius belajar Al-Quran pada usia 16 tahun di sebuah pondok pesantren di Jepara pada 2017. Dengan mengandalkan pendengaran, ia butuh sekitar tiga tahun untuk menghatamkan 30 juz. Sehari ia menghafal sekitar satu lembar, mendengarkan bacaan berulang-ulang, termasuk rekaman qari Syekh Mishary Rasyid, hingga bacaan itu melekat di ingatan.

Kesulitan terbesar, kata Ahmad, muncul saat awal belajar karena ia tidak bisa melihat mushaf seperti kebanyakan orang. "Makanya ustaz yang mengajar tunanetra itu memang harus benar-benar sabar, benar-benar ikhlas," ujarnya kepada detikcom. Untuk tampil di ajang nasional, ia berlatih tilawah sekitar setahun, mulai dari teknik pernapasan hingga cengkok.

Metode menghafal lewat pendengaran seperti ini memang menuntut konsistensi. Panduan cara mudah menghafal Al-Quran dengan konsisten bisa menjadi langkah awal bagi siapa pun yang ingin memulai perjalanan tahfizh.

Bukan Semata Mengejar Juara

Ahmad menegaskan keikutsertaannya bukan semata-mata demi gelar. "Bukan niat cari juara, saya niatnya untuk mempelajari tilawah Al-Quran itu lebih dalam," kata dia sebagaimana dikutip ANTARA. Sementara qariah tunanetra asal Kalimantan Timur, Siti Nurjanah, menyiapkan diri sembilan bulan dan menargetkan juara pertama setelah meraih juara harapan satu pada MTQ sebelumnya, sebagaimana dilaporkan Media Indonesia.

Kisah pemberani lain datang dari qori asal Sumatera Barat, Daffa Hadaya (14). Ia memilih tampil pada kategori umum cabang hafalan 20 juz, bukan kelompok khusus tunanetra, sehingga bersaing langsung dengan peserta yang memiliki penglihatan normal. Ia melaju ke MTQ Nasional setelah menjadi juara satu MTQ tingkat Provinsi Sumbar. "Beban mental memang berat, tapi motivasi saya ikut kompetisi. Kompetitif, tidak sekadar berlomba, tapi ingin buktikan kemampuan saya," kata Daffa kepada Posmetro Padang.

Final cabang tilawah disabilitas netra akan berlangsung Jumat (18/9). Kehadiran para qari dan qoriah tunanetra di MTQ Nasional XXXI menjadi bukti bahwa keterbatasan penglihatan bukan penghalang untuk terus dekat dengan Al-Quran.

Kisah para penghafal ini juga mengingatkan pentingnya pendampingan yang terstruktur bagi pesantren, sekolah, dan halaqah. Melalui Tahfizku, pembina bisa mencatat setiap setoran hafalan santri dan memantau progres hafalan secara rutin, sehingga perkembangan tiap santri terpantau jelas dari waktu ke waktu.

Kelola Hafalan Lembaga Anda dengan Tahfizku

Pencatatan setoran, monitoring progres santri, dan laporan perkembangan — semua dalam satu platform.

Mulai Gratis Sekarang