Gema lantunan ayat suci Al-Quran mengisi aula SDII Al Abidin Boyolali, Jumat (28/8/2026) pagi. Siswa kelas 3 hingga kelas 6 mengikuti murojaah kubro dengan membaca dan mengulang hafalan Juz 30 secara bersama-sama sebelum pembelajaran dimulai, sebagaimana dilansir Espos.id.
Kegiatan itu dijalankan secara rutin sebagai pembiasaan positif di lingkungan sekolah. Didampingi para guru, siswa melantunkan bacaan Juz 30 secara serentak. Suasana aula terasa khidmat sekaligus menunjukkan kebersamaan siswa dalam berinteraksi dengan Al-Quran.
Siswa Kelas 3-6 Lantunkan Juz 30 Bersama-sama
Murojaah kubro yang digelar Jumat pagi menjadi momentum siswa mengawali aktivitas sekolah dengan kegiatan bernilai spiritual. Mereka tidak sekadar menyiapkan diri secara akademik, tetapi juga membangun kesiapan spiritual melalui interaksi bersama Al-Quran.
Laporan TribunSolo.com mencatat kegiatan ini menjadi salah satu upaya sekolah membangun semangat siswa untuk menghafal sekaligus menjaga hafalan Al-Quran. SDII Al Abidin Boyolali sendiri mengampu tiga program unggulan, yaitu ICT (Information and Communication Technology), ICP (International Class Program), dan TCP (Tahfidz Class Program).
Murojaah, Kunci Hafalan Al-Quran Tidak Luntur
Kepala SDII Al Abidin Boyolali, Agus Nugroho, S.T., S.Pd., mengatakan pembiasaan murojaah menjadi bagian penting dalam membangun karakter siswa agar memiliki kedekatan dengan Al-Quran. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya diarahkan mampu menghafal, tetapi juga terbiasa mengulang dan menjaga hafalan yang telah dipelajari.
Semangat itu diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan siswa, baik di sekolah maupun di rumah. Praktik ini sejalan dengan pengalaman banyak lembaga tahfizh: hafalan yang jarang diulang cenderung mudah luntur, sementara pengulangan rutin membuat hafalan semakin kokoh. Strategi menjaga konsistensi juga pernah dibahas di panduan cara mudah menghafal Al-Quran dengan konsisten.
Cara Menerapkan Murojaah Rutin di Sekolah dan Halaqah
Pola yang dipraktikkan SDII Al Abidin Boyolali bisa ditiru lembaga pendidikan maupun halaqah lain. Kuncinya ada pada jadwal tetap, misalnya setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, dengan cakupan hafalan yang jelas seperti satu juz tertentu. Pendampingan guru atau musyrif juga penting agar bacaan santri tetap terjaga kualitasnya.
Di rumah, orang tua dapat mengajak anak mengulang hafalan dalam sesi singkat namun konsisten. Dengan pembiasaan seperti ini, mengulang hafalan tidak terasa sebagai beban tambahan, melainkan menjadi bagian alami dari keseharian anak dalam berinteraksi dengan Al-Quran.
Bagi pesantren, sekolah, dan halaqah yang ingin mencatat setoran serta memantau progres murojaah santri secara rapi, Tahfizku hadir sebagai platform pencatatan setoran hafalan dan monitoring progres hafalan Al-Quran. Setiap capaian santri terekam rapi, sehingga guru mudah menilai perkembangan hafalan dan murojaah dari waktu ke waktu.
