Tahfizku
← Semua Artikel
17 September 2026

Tartil Al-Quran Isyarat Perdana di MTQ Nasional 2026, 28 Peserta Tuli Berlaga

Tartil Al-Quran Isyarat Perdana di MTQ Nasional 2026, 28 Peserta Tuli Berlaga

MTQ Nasional XXXI 2026 di Semarang mencatat sejarah baru. Untuk pertama kalinya, perhelatan musabaqah tahunan itu membuka ekshibisi Tartil Al-Quran Isyarat bagi penyandang disabilitas sensorik rungu wicara atau komunitas Tuli.

Ekshibisi digelar di MG Setos Hotel Semarang, Selasa (15/9/2026), diikuti 28 peserta putra dan putri yang menjadi utusan 14 komunitas tuli muslim dari sembilan provinsi. Melantunkan ayat suci kini tidak hanya soal kemerduan suara, tetapi juga keindahan gerak isyarat.

Dua Metode: Kitabah dan Tilawah

Berbeda dengan perlombaan MTQ pada umumnya yang menonjolkan kehikmatan dan kemerduan lantunan suara, pada cabang ini gerak isyarat menjadi sentral pelafalan. Jari, telapak, dan posisi tangan menjadi bahasa untuk menyampaikan ayat.

Peserta tampil dalam dua kategori, yaitu metode Kitabah dan metode Tilawah. Penilaian dilakukan oleh dewan hakim yang terdiri dari unsur tuli dan non-tuli yang memahami pedoman serta metode Al-Quran isyarah. Kemenag menjalankan gelaran ini bersama Asosiasi Tuli Muslim Indonesia (ATMI) selaku pelaksana teknis, mulai dari penyusunan pedoman penilaian hingga mekanisme musabaqah.

Berakar pada KMA 889 Tahun 2022 dan Pelatihan 71 Titik

Ekshibisi ini bukan keputusan mendadak. Penyusunannya melibatkan pemerintah sebagai fasilitator bersama komunitas Tuli, akademisi, praktisi bahasa isyarat, dan pentashih mushaf, lalu diperkuat melalui Keputusan Menteri Agama Nomor 889 Tahun 2022. Kemenag juga telah menyelenggarakan pelatihan pengajar (ToT) Al-Quran Isyarat di 71 titik yang melibatkan lebih dari 2.200 peserta.

Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag Abu Rokhmad menyebut ekshibisi ini tradisi baru sekaligus momentum penting untuk memenuhi hak beragama penyandang tuli. Adapun Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag Muchlis M. Hanafi menjelaskan statusnya masih ekshibisi: tahap pengujian dan evaluasi menyeluruh, mulai dari kesiapan peserta hingga kapasitas dewan hakim, sebelum dipertimbangkan menjadi cabang resmi pada MTQ berikutnya.

Momentum Inklusi bagi Lembaga Tahfidz

Semangat itu terasa dari para peserta. Aisyah Syerviyah, anggota kafilah Provinsi Jawa Timur yang menjalani lima kali latihan sebelum tampil, mengaku tidak memikirkan hasil. "Menang ataupun tidak bukan masalah, yang terpenting semangat Alquran," ujarnya.

Perdana ini menegaskan bahwa layanan pendidikan Al-Quran semakin melebar ke semua kalangan. Sebelumnya, MTQ Nasional 2026 juga menampilkan 40 qari tunanetra dari 37 provinsi yang melantunkan Al-Quran dengan hafalan dan mushaf Braille. Bagi lembaga tahfidz, momentum ini jadi pengingat bahwa kelas Al-Quran bisa dibuka untuk semua santri, tanpa terkecuali.

Bagi pesantren, sekolah, dan halaqah yang ingin membangun program tahfidz yang inklusif dan konsisten, kuncinya ada pada pencatatan setoran hafalan serta monitoring progres tiap santri. Tahfizku hadir membantu lembaga mencatat setoran, mengawal murojaah, dan memantau capaian hafalan secara rapi, sehingga tak ada satu pun progres hafalan yang terlewat, termasuk bagi santri dengan kebutuhan khusus.

Kelola Hafalan Lembaga Anda dengan Tahfizku

Pencatatan setoran, monitoring progres santri, dan laporan perkembangan — semua dalam satu platform.

Mulai Gratis Sekarang