Sebanyak 44 peserta Program One Kelurahan One Hafiz (OHAN Hafiz) Angkatan I Kota Tasikmalaya mengikuti prosesi wisuda hafalan Al-Quran di Pelataran Masjid Agung Tasikmalaya, Jumat (4/9/2026). Mereka menjalani pembinaan terstruktur selama 12 bulan.
Dari jumlah tersebut, 26 peserta tercatat sudah tuntas menghafal 30 juz Al-Quran. Enam peserta lainnya berada pada hafalan 20-29 juz, sementara 12 peserta mencapai 11-19 juz, sebagaimana dilansir inilahkoran.id.
Target Satu Hafiz per Kelurahan
OHAN Hafiz adalah program unggulan Pemerintah Kota Tasikmalaya yang diluncurkan pada Malam Tasyakur Hari Jadi ke-24 di Stadion Wiradadaha, 22 Oktober 2025. Program ini bagian dari visi Tasik Religius dengan target setiap kelurahan memiliki minimal satu penghafal Al-Quran, sebagaimana diliput Radartasik.com.
Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan saat peluncuran menyebut OHAN sebagai bentuk komitmen pemerintah membangun karakter masyarakat yang religius dan berakhlak mulia. "Tasikmalaya tidak hanya maju secara pembangunan fisik, tetapi juga harus kuat secara spiritual. Melalui OHAN, kita ingin melahirkan hafidz-hafidz dari setiap kelurahan agar cahaya Al-Quran senantiasa menerangi kota ini," ujarnya.
Target tahap pertama adalah 69 peserta, sesuai jumlah kelurahan di Kota Tasikmalaya. Ketua Tim Koordinasi OHAN Hafiz, Ade Hendar, mengatakan capaian angkatan pertama baru sekitar 65 persen. "Secara keseluruhan kualitas peserta cukup memuaskan. Namun secara kuantitas belum sesuai harapan," katanya saat ditemui Selasa (1/9/2026).
Pembinaan 12 Bulan di Empat Zona
Pelaksanaan OHAN Hafiz Angkatan I memakai empat zona pembinaan. Zona I di Pondok Pesantren Nurul Hidayah II menampung 14 peserta, Zona II di Pondok Pesantren Sulalatul Huda 13 peserta, Zona III di Al Hasanah 12 peserta, dan Zona IV di Tahfizul Quran Nurul Iman lima peserta.
Seluruh peserta didampingi 20 pembina, terdiri atas 12 pembina tahfiz dan delapan pembina tahsin. Mereka juga mendapat dukungan beasiswa dan akomodasi hingga wisuda, kata Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya Asep Goparullah.
Capaian belum seragam karena sejumlah tantangan di lapangan. Program memprioritaskan anak berdomisili Kota Tasikmalaya, sementara beberapa calon peserta potensial tengah bersekolah di pesantren luar daerah. "Di beberapa wilayah sebenarnya ada anak yang hafalannya sudah bagus. Namun domisilinya bukan Kota Tasikmalaya," jelas Ade.
Hafalan Jadi Modal Lanjut Sekolah dan Kampus
Manfaat program sudah dirasakan peserta lewat jalur prestasi. Satu peserta diterima di SMAN 1 Tasikmalaya, satu peserta di SMAN 5 Tasikmalaya, dan dua peserta lainnya di SMAN 2 Tasikmalaya.
Tim Koordinasi OHAN Hafiz juga menjalin komunikasi dengan 19 perguruan tinggi di Tasikmalaya serta membahas peluang beasiswa bersama empat perbankan. Pemerintah kota ingin hafalan yang sudah diperjuangkan menjadi modal pendidikan berkelanjutan.
Asep menegaskan wisuda bukan garis akhir. "Justru setelah wisuda, muncul pertanyaan yang lebih besar: setelah anak-anak kita menjadi hafiz dan hafizah, ke mana mereka akan melangkah?" ujarnya. Pemastian ruang berkembang di perguruan tinggi dan lingkungan pendukung hafalan menjadi agenda lanjutan, termasuk mendorong pola murojaah seperti setoran hafalan rutin yang terbukti jadi kunci program tahfidz di sekolah dan madrasah.
Bagi pesantren, sekolah, atau halaqah yang ingin meniru keberhasilan program semacam ini, pencatatan setoran hafalan dan pemantauan progres setiap santri menjadi kunci. Tahfizku hadir sebagai platform manajemen tahfizh Al-Quran yang membantu lembaga mencatat setoran hafalan, memantau capaian juz, dan mengawal perkembangan santri secara berkelanjutan.
